Thursday, 16 July 2020

Keputihan / flour albuse


1. Pengertian
Keputihan (fluor albus) adalah gejala gangguan alat kelamin yang dialami oleh wanita, berupa keluarnya cairan putih kekuningan atau putih kelabu dari Miss V.
Keputihan atau Fluor Albus atau Leukorea merupakan sekresi vaginal pada wanita. Keputihan pada dasarnya dapat digolongkan menjadi dua golongan yaitu keputihan normal (fisiologis) dan keputihan abnormal (patologis). Keputihan fisiologis adalah keputihan yang biasanya terjadi setiap bulannya, biasanya muncul menjelang menstruasi atau sesudah menstruasi ataupun masa subur. Keputihan patologis dapat disebabkan oleh infeksi biasanya disertai dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar bibir vagina bagian luar. Penyebab umum keputihan ini antara lain bakteri, virus, jamur atau juga parasit. Infeksi ini dapat menjalar dan menimbulkan peradangan ke saluran kencing, sehingga menimbulkan rasa pedih saat si penderita buang air kecil.
Istilah keputihan acap kali digunakan sebagai referensi umum untuk sekresi vaginal, baik yang normal maupun abnormal. Karena tidak ada istilah lain dalam bahasa Indonesia yang umum dipakai untuk sekresi vaginal. Hal ini menimbulkan kerancuan di masyarakat.Penyebab

2. Gejala
Keputihan normal (fisiologis), sebenarnya tidak berwarna putih dan tidak cocok disebut keputihan, banyak dipengaruhi oleh sistem hormonal, sehingga banyak sedikitnya sekret/cairan vagina sangat bergantung pada siklus bulanan dan stress yang juga dapat mempengaruhi siklus bulanan itu sendiri.
a. Cairan sekresi berwarna bening, tidak lengket dan encer.
b. Tidak mengeluarkan bau yang menyengat.
c. Gejala ini merupakan proses normal sebelum atau sesudah haid dan tanda masa subur pada wanita tertentu.
d. Pada bayi perempuan yang baru lahir, dalam waktu satu hingga sepuluh hari, dari vaginanya dapat keluar cairan akibat pengaruh hormon yang dihasilkan oleh plasenta atau uri.
e. Gadis muda kadang-kadang juga mengalami keputihan sesaat sebelum masa pubertas, biasanya gejala ini akan hilang dengan sendirinya.
f. Biasanya keputihan yang normal tidak disertai dengan rasa gatal. Keputihan juga dapat dialami oleh wanita yang terlalu lelah atau yang daya tahan tubuhnya lemah. Sebagian besar cairan tersebut berasal dari leher rahim, walaupun ada yang berasal dari vagina yang terinfeksi, atau alat kelamin luar.
g. Pada wanita hamil keputihan lebih sering timbul, karena pada ssat wanita hamil, maka kekebaln tubuhnya akan menurun.
h. Pada waktu menopause dimana keseimbangan hormonalnya terganggu.
i. Pada orang tua dimana kekebalan tubuhnya sudah menurun dapat pula timbul Keputihan

Keputihan abnormal (patologis)
a. cairan berwarna putih pekat, putih kekuningan, putih kehijauan atau putih kelabu dari saluran vagina. Cairan ini dapat encer atau kental, lengket dan kadang-kadang berbusa.
b. cairan ini mengeluarkan bau yang menyengat.
c. Pada penderita tertentu, terdapat rasa gatal yang menyertainya serta dapat mengakibatkan iritasi pada vagina.
d. Merupakan salah satu ciri-ciri penyakit infeksi vagina yang berbahaya seperti HIV, Herpes, Candyloma.

Pada umumnya keputihan yang perlu diwaspadai ketika berwarna kuning atau hijau keabu-abuan, berbau tidak enak, jumlahnya banyak, dan menimbulkan rasa tidak nyaman seperti gatal dan rasa terbakar.
Pada beberapa kondisi juga terdapat keluhan berkemih maupun saat berhubungan intim. Jika infeksi sudah cukup parah, gejala sistemik seperti demam, mual, dan muntah juga dapat muncul.  

3. Penyebab
Penyebab keputihan secara umum adalah:
a. Ketidakseimbangan hormon
b. Gejala suatu penyakit tertentu
c. Rusaknya keseimbangan biologis dan keasaman (pH) lingkungan vagina.

Hal-hal yang bisa terjadinya infeksi
a. Sering memakai tissue saat membasuh bagian kewanitaan, sehabis buang air kecil maupun buang air besar
b. Memakai pakaian dalam yang ketat dari bahan sintetis (bukan katun), sehingga berkeringat dan memudahkan timbulnya jamur
c. Sering menggunakan toilet umum yg kotor
d. Tidak mengganti panty liner
e. Membilas vagina dari arah yang salah, yaitu dari arah anus ke arah depan vagina
f. Sering bertukar celana dalam/handuk dengan orang lain
g. Kurang menjaga kebersihan vagina
h. Kelelahan yang amat sangat
i. Stres
j. Tidak segera mengganti pembalut saat menstruasi
k. Sering membasuh vagina, yang harus dibasuh adalah vulva (bagian yang menggembung) dan bukan vaginanya
l. Tidak mejalani pola hidup sehat (makan tidak teratur, tidak pernah olahraga, tidur kurang)
m. Lingkungan sanitasi yang kotor.
n. Sering mandi berendam dengan air hangat dan panas. Jamur yang menyebabkan keputihan lebih mungkin tumbuh di kondisi hangat.
o. Sering berganti pasangan dalam berhubungan seks
p. Kadar gula darah tinggi
q. Sering menggaruk vagina

Sedangkan dengan memperhatikan cairan yang keluar, kadang-kadang dapat diketahui penyebab keputihan.
a. Infeksi kencing nanah, misalnya, menghasilkan cairan kental, bernanah dan berwarna kuning kehijauan.
b. Keputihan yang disertai bau busuk dapat disebabkan oleh kanker.
c. Keputihan akibat jamur Candida albicans, Keputihan jenis ini memiliki ciri-ciri warna putih seperti susu,cairan kental,  bau tak sedap dan sangat gatal, terkadang dapat menimbulkan radang pada vagina sehingga kelihatan kemerahan.
d. Keputihan akibat bakteri Vaginosis atau Gardnerella, Keputihan jenis ini memiliki ciri-ciri warna abu-abu, tidak terlalu kental,  cairan berbuih, mengeluarkan bau yang amis, dan gatal yang mengganggu.
e. Keputihan akibat parasit Trichomonas vaginalis, Keputihan jenis ini memiliki ciri-ciri warna kehijauan atau kuning,  cairan berbuih dan bau amis, tidak menimbulkan gatal, tetapi saat ditekan, vagina akan terasa sakit. keputihan ini dapat ditularkan melalu hubungan seks yang tidak sehat, perlengkapan kamar mandi atau kloset.
f. Keputihan akibat virus, Keputihan jenis ini dapat diakibatkan oleh virus, HIV, Herpes atau Candyloma. keputihan yang diakibatkan oleh jenis ini dapat memicu kanker rahim, pada keputihan herpes biasanya disertai tanda-tanda herpes seperti luka yang melepuh, sedangkan pada keputihan candyloma disertai tanda-tanda candyloma berupa kutil-kutil yang tumbuh di vagina atau rahim. Penyakit herpes atau candyloma terkadang tidak terdeteksi secara dini, karena umumnya tanda-tandanya tidak mudah terlihat, karena muncul di dalam vagina.

4. Pengobatan
Dokter sering kali memerintahkan pasien datang ke Laboratorium Klinik untuk dilakukan kultur terhadap ambilan sekret keputihan. Dari biakan kultur, dapat diketahuinya antibiotik yang tepat untuk mengobatinya, terutama untuk E. coli, Klebsiela sp dan Pseudomonas sp yang sering resiten terhadap beberapa jenis antibiotik tertentu. Resistensi ini dapat berubah-ubah sejalan dengan waktu dan dapat berbeda resistensinya pada orang yang berlainan.
Kadang-kadang keputihan dapat juga bersamaan dengan Infeksi saluran kemih, karena itu perlu dibedakan apakah hanya keputihan saja atau keduanya. Jika sulit buang air kecil atau terasa anyang-anyangan atau merasa ada air seni yang tertinggal atau merasa tidak tuntas, maka ini adalah tanda kemungkinan terjadinya infeksi saluran kemih. Jika juga disertai dengan adanya keputihan, maka bisa ditangani oleh Dokter Spesialis Urologi (SpU). Jika hanya keputihan saja dapat ke Dokter Spesialis Kandungan (SpOG), Dokter Spesialis Penyakit Dalam (SpPD) atau dokter umum. Dengan hasil kultur, dokter akan mengobati penyakit dengan antibiotik yang sesuai.

5. Diagnosis Keputihan
Diagnosis biasanya ditegakkan berdasarkan pemeriksaan fisik, dan terutama dengan pemeriksaan penunjang seperti swab dan kultur cairan dari Miss V.

6. Pencegahan Keputihan
Dianjurkan untuk selalu menjaga kebersihan kebersihan daerah kewanitaan, hindari kondisi lembap, hindari memakai pakaian yang terlalu ketat, jangan berganti pasangan seksual.

7. Refrensi
https://id.m.wikipedia.org/wiki/Keputihan

Wednesday, 15 July 2020

Disminorea / dilep / nyeri perut haid

Disminorea atau nyeri haid mungkin merupakan suatu gejala yang paling sering menyebabkan wanita-wanita muda pergi ke dokter untuk konsultasi dan pengobatan. Karena gangguan ini sifatnya subyektif, berat atau intensitasnya sukar dinilai. Walaupun frekuensi disminorea cukup tinggi dan penyakit ini sudah lama dikenal, namun sampai sekarang patogenesisnya belum dapat dipecahkan dengan memuaskan.

Oleh karena hampir semua wanita mengalami rasa tidak enak diperut bagian bawah sebelum dan selama haid dan sering kali rasa mual maka istilah disminorea hanya dipakai jika nyeri haid demekian hebatnya, sehingga memaksa penderita untuk istirahat dan meninggalkan pekerjaan atau cara hidupnya sehari-hari untuk beberapa jam atau beberapa hari.m

Pengertian

Nyeri haid atau dismenore adalah nyeri atau kram di perut bagian bawah, yang muncul sebelum atau sewaktu menstruasi. Pada sebagian wanita, dismenore dapat bersifat ringan, namun pada sebagian lain, dismenore bisa berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.

Dismenore ditandai oleh kram di bagian bawah perut. Kondisi tersebut normal terjadi setiap bulan dan tidak perlu dikhawatirkan, karena merupakan proses yang terjadi secara alami di rahim wanita. Seiring bertambahnya usia, dismenore juga akan menghilang secara bertahap.

Gejala

Nyeri haid dapat muncul 1-2 hari sebelum menstruasi atau pada hari-hari awal menstruasi, dan hal tersebut merupakan sesuatu yang normal terjadi. Gejalanya adalah kram di bagian bawah perut, yang terkadang menjalar hingga ke punggung bagian bawah dan paha. Kram terasa ringan namun konstan, dan berlangsung hingga 3 hari. Nyeri ini akan berangsur-angsur hilang seiring bertambahnya usia, terlebih setelah memiliki anak.

Pada beberapa orang, nyeri haid dapat terasa berlebihan. Nyeri ini berlangsung lebih lama dibandingkan nyeri haid normal, yaitu mulai lebih awal dari haid dan tidak hilang walaupun haid sudah berakhir. Saat menstruasi, rasa nyeri ini juga terasa lebih buruk. Nyeri yang seharusnya mulai menghilang seiring bertambahnya usia, malah muncul di usia 30-45 tahun. Nyeri haid berlebihan ini bisa disertai dengan gejala lain, seperti:

  • Menstruasi tidak lancar
  • Perdarahan dari vagina saat tidak haid
  • Keputihan
  • Rasa sakit saat berhubungan intim.

Segera periksakan diri ke dokter jika nyeri haid terasa berlebihan hingga mengganggu aktivitas, bertambah parah, atau baru dialami setelah usia 25 tahun. Anda juga disarankan untuk berkonsultasi kepada dokter kandungan bila terjadi kondisi berikut:

  • Nyeri dirasakan setelah pemasangan
  • Nyeri disertai mual, muntah, atau diare.
  • Nyeri haid berlebihan selama tiga siklus berturut-turut.
  • Keluar gumpalan darah dari vagina.
  • Nyeri di panggul meski tidak sedang menstruasi.

Kram perut atau nyeri panggul yang muncul tiba-tiba bisa menjadi tanda adanya infeksi di organ reproduksi. Bila tidak segera diatasi, infeksi tersebut dapat merusak organ dan menyebabkan kemandulan. Oleh karena itu, segeralah berobat ke dokter bila mengalami gejala infeksi di organ reproduksi, seperti demam, nyeri yang berlebihan atau muncul mendadak di daerah panggul, dan keputihan.

Penyebab

Dismenore atau nyeri haid merupakan kondisi normal yang dialami oleh wanita setiap bulannya, dan tidak perlu dikhawatirkan. Nyeri ini muncul akibat kontraksi otot rahim, untuk melepaskan dan mengeluarkan lapisan dalam dinding rahim yang disebut endometrium. Kontraksi ini membuat pembuluh darah terjepit, sehingga pasokan oksigen ke rahim berkurang dan timbul rasa nyeri.

Tidak semua wanita mengalami nyeri haid. Ada sejumlah faktor yang membuat seorang wanita lebih berisiko mengalami nyeri haid, yaitu:

  • Berusia di bawah 30 tahun
  • Memiliki ibu atau saudara perempuan yang juga mengalami nyeri haid
  • Menstruasi tidak lancar
  • Sudah mengalami pubertas sebelum usia 11 tahun
  • perdarahan yang berlebihan saat menstruasi
  • Memiliki kebiasaan merokok.

Sedangkan nyeri haid yang berlebihan bisa disebabkan oleh adanya suatu penyakit pada organ reproduksi, seperti:

  • Endometriosis, yaitu kondisi ketika jaringan yang membentuk lapisan dalam dinding rahim tumbuh di luar rahim, misalnya di tuba falopi (saluran telur) atau ovarium (indung telur).
  • Adenomiosis, yaitu kondisi ketika jaringan yang membentuk lapisan dalam dinding rahim tumbuh ke dalam otot dinding rahim.
  • Miom, yaitu tumor jinak pada dinding rahim.
  • Radang panggul, akibat infeksi pada organ reproduksi wanita yang sudah menyebar di dalam rongga panggul.
  • Penyempitan leher rahim, yang menyebabkan darah menstruasi tidak bisa mengalir keluar dari rahim

Pengobatan

Nyeri haid yang normal dapat ditangani sendiri di rumah tanpa bantuan dokter. Anda bisa melakukan beberapa langkah sederhana berikut ini untuk mengurangi nyeri haid:

  • Memijat dan mengompres hangat area perut yang sakit.
  • Berolahraga ringan, seperti berjalan santai atau bersepeda.
  • Melakukan relaksasi, misalnya dengan yoga atau pilates.
  • Mandi air hangat.
  • Mengonsumsi suplemen yang mmmengandung vitamin E, vitamin B6, omega 3, dan magnesium.

Bila nyeri tidak juga mereda, Anda dapat mengonsumsi obat pereda nyeri yang dijual bebas tanpa resep, misalnya paracetamol. Jika Anda adalah perokok, segeralah berhenti merokok.

Apabila nyeri haid dirasa berlebihan, sebaiknya konsultasikan kepada dokter. Dokter akan mencari tahu apakah ada penyakit yang menyebabkan nyeri haid tersebut, kemudian memberikan pengobatan sesuai dengan penyebabnya. Beberapa cara yang dapat dilakukan dokter untuk meredakan nyeri haid adalah:

Dokter dapat meresepkan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS)seperti asam mefenamat, untuk meredakan nyeri haid. Selain obat pereda nyeri, dokter dapat meresepkan pil KB untuk mengurangi ketebalan lapisan dalam dinding rahim, sehingga otot rahim tidak perlu berkontraksi secara berlebihan. 

Pembedahan

Tindakan operasi dilakukan jika nyeri haid disebabkan oleh endometriosis atau miom. Operasi pengangkatan rahim dapat menjadi pilihan jika metode lain tidak berhasil meredakan nyeri haid. Namun perlu diingat, operasi pengangkatan rahim (histerektomi) ini dilakukan dengan berbagai pertimbangan, misalnya jika penderita sudah tidak lagi berencana untuk hamil.

Di samping metode di atas, dokter dapat menganjurkan pasien untuk menjalani terapi TENS (transcutaneous electrical nerve stimulation). TENS dilakukan dengan mengalirkan arus listrik ringan ke saraf di area panggul, untuk menghalangi sinyal rasa sakit.

Monday, 6 July 2020

KPD ketuban pecah dini

KPD Ketuban Pecah Dini

Batasan

Ketuban pecah 1 jam kemudian tidak di ikuti tanda-tanda awal persalinan

Patofisiologi

1. Korio amnionitis menyebabkan selaput ketuban jadi rapuh

2. Inkompetensia serviks yakni kanalis servikalis yang selalu terbuka oleh karena kelainan pada serviks uteri ( akibat persalinan atau tindakan kuret)

3. Kelainan letak sehingga tidak ada bagian terendah anak yang menutup pintu atas panggul (PAP), yang dapat mengurangi tekanan terhadap membran bagian bawah

4. Trauma yang menyebabkan tekanan intra uterin (intra amniotic) mendadak meningkat

Cara Pemeriksaan / Diagnosis

Bila air ketuban keluar banyak dan mengandung mekonium / verniks maka diagnosis inpeksi mudah ditegakkan tapi bila ke luar cairan sedikit maka diagnosis harus didasarkan pada :

1. Anamnesis

A. Kapan keluar cairan

B. Warna

C. Bau

D. Adakah partikel-partikel didalam cairan (laguno vernix)

2. Inspeksi

Keluar cairan pervaginam

3. Inspekulo

Bila fundus ditekan atau bagian terendah digoyangkan, ke luar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada forniks posterior

4. Periksa Dalam

A. Ada cairan dalam vagina

B. Selaput ketuban sudah tak ada lagi

5. Pemeriksaan Lab

A. Kertas lakmus : reaksi basa (lakmus merah berubah jadi biru)

– kortikosteroid untuk merangsang maturasi paru (betametason 12mg iv 2x selang 24jam)

B. Mikroskopik

– tampak lanugo, verniks caseosa (tidak selalu dikerjakan)

Bila dengan cara diatas ternyata ketuban sudah pecah, maka diambil ketemtuan sebagai berikut :

1. Saat ketuban pe ah ditentukan berdasarkan anamnesis pasti tentang kapan ketuban pecah

2. Kalau anamnesis tidak pasti, maka saat ketuban pecah adalah saat penderita masuk kamar bersalin

Diagnosis Banding

1. Cairan dalam vagina bisa urine / flour albuse

2. Hind water and fore water rupture of the membrane pada kedua keadaan ini tidak ada oerbedaan penatalaksanaanya

Penyulit

1. Infeksi intra uterin, kematian perinata. Meningkat dari 17% menjadi 68% apabila ketuban sudah oecah 48jam anak belum lahir

2. Tali pusat menumbung

3. Persalinan preterm

4. Amniotic band syndrome yakni kelainan bawaan akibat ketuban pecah sejak hamil muda

Penatalaksanaan

I. KPD dengan kehamilan Aterm

1. Diberikan antibiotik

2. Observasi suhu rektal tidak meningkat, ditunggu 24jam, bila belum ada tanda-tanda inpartu dilakukan terminasi

3. Bila saat datang sudah lebih dari 24jam, tidak ada tanda-tanda inpartu dilakukan terminasi

II. KPD dengan kehamilan Prematur

1. EFW > 1500gram

a. Ampiciline 1gr/hr tiap 6jam, im/iv selama 2hari dan gentamycine 60-80mg tiap 8-12jam sehari selama 2hari

b. Kortikosteroid untuk merangsang maturasi paru (bethametasone 12mg iv 2x selang 24jam)

c. Observasi 2×24 jam kalau belum inpartu segera terminasi

d. Observasi suhu rektal tiap 3jam bila ada kecenderungan meningkat >37,6 c segera terminasi

2. EFW kurang dari 1500 (<1500g)

a. Observasi 2×24 jam

b. Observasi suhu rektal tiap 3jam

c. Pemberian antibiotik / kortikosteroid ( sama dengan atas )

d. VT selama obeservasi tidak dilakukan kecuali ada his / inpartu

e. Bila T rektal meningkat >37,6 C segera terminasi

f. Bila 2×24 jam cairan tidak keluar lakukan USG : bagaimana jumlah air ketuban bila jumlah air ketuban cukup kehamilan dilanjutkan perawatan ruangan s/d 5hari bila jumlah air ketuban minimal segera terminasi

g. Bila 2×24 jam cairan ketuban masih keluar segera terminasi

h. Bila konservatif sebelum pulang penderita diberi KIE : 

– Segera kembali ke RS bila ada tanda-tanda demam atau keluar cairan lagi

– Tidak boleh coitus (berhubungan)

– Tidak boleh manipulasi vaginal

Terminasi persalinan yang dimaksud di atas adalah : 

1. Induksi persalinan dengan memakai drip oxytocin (5u/ 500cc D5%) bila persyaratan klinis (USG dan NST) memenuhi

2. Seksio sesar bila persyaratan untuk drip oxytocin tidak terpenuhi (ada kontra indikasi) atau drip oxytocin gagal

III. KPD yang dilakukan induksi

1. Bila 12jam belum ada tanda-tanda awal persalinan dengan atau belum keluar dari fase laten induksi dinyatakan gagal dan persalinan diselesaikan dengan seksio sesar

2. Bila dengan 2botol (@5U/500 cc D5%) dengan tetesan maximum, belum inprartu atau belum keluar dari fase laten induksi dinyatakan gagal persalianan diselsaikan dengan SC

IV. KPD yang sudah inpartu

1. Evaluasi setelah 12 jam harus keluar dari fase laten, bila belum keluar dari fase laten dilakukan akselerasi persalinan dengan drip oxytocin atau terminasi dengan SC bila ada kontra indikasi untuk drip oxytocin

2. Bila pada fase laten didapat tanda-tanda fase laten memanjang maka dilakukan akselerasi persalinan dengan drip oxytocin atau terminasi dengan SC bila ada kontra indikasi drip oxytocin

Catatan

1. Evaluasi persalinan setelah masuk fase aktif sesuai dengan persalinan yang lain (kurve friedman)

2. Pada keadaan ketuban pecah pada fase laten (inpartu) maka penatalaksanaan seperti KPD inpartu dihitung mulai saat pecahnya ketuban

Daftar Pustaka

Cunningham, Gant, Leveno, Gilstrap III, Wenstrom, Wiliam Obstetrics.21st Ed, 2001

Friedman, Acker, Sachs. Obstetrical Decision Making. Second Ed.p 170 Manly, Graphic Asian Edition, 1998

Kebijakan Pelayanan Obstetri dan Ginekologi Lab / UPF Kebidanan Kandungan FK Unair / RSUD Dr. Soetomo Surabaya, 1982

Makalah neonatus hydrocepalus

TUGAS MAKALAH NEONATUS

HYDROCEPALUS

 

 

Dosen Pengajar : Intyaswati, SST

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

OLEH 

NUR HIDAYATI

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI BIDAN PENDIDIK (D.IV) MINAT KLINIK

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS KADIRI

2015

KATA PENGANTAR

 

Bismillahirrahmanirrahim..

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan Semesta Alam yang telah menolong hamba-Nya menyelesaikan makalah ini denganpenuh kemudahan. Tanpa pertolongan Dia mungkin kita tidakakan sanggup menyelesaikan dengan baik, dan selesai tepat padawaktunya.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmutentang GADAR NEONATUS yang kami sajikan berdasarkanpengetahuan dari sumber yang dapat di pertanggung jawabkanisinya.  Makalah ini disusun berdasarkan referensi dari buku.Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dariTuhan akhirnya makalah ini dapat terselesaikan.

Makalah ini memuat tentang “Hidrocephalus yang sangatpenting bagi seorang bidan dan masyarakat luar. Walaupunmakalah ini mungkin kurang sempurna tapi juga memiliki detail yang cukup jelas bagi pembaca.

Kami juga mengucapkan terimakasih kepada dosenpengajar Gadar Neonatus yaitu Intyaswati, SST  yang telahmembimbing penyusun agar dapat mengerti tentang bagaimanacara kami menyusun karya makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca. Walaupun makalah ini memilikkelebihan dan kekurangan. Kami mohon untuk saran dankritiknya. Terima kasih.

 

Surabaya, 09 Juli 2015

 

 

 

Penyusun

 

 

DAFTAR ISI

 

Kata Pengantar 

Daftar Isi 

BAB I PENDAHULUAN  1

1.1 Pendahuluan  1
1.2 Tujuan  1
1.3 Sistematika Penulisan  1

BAB II PEMBAHASAN  2

2.1 Pengertian  2
2.2 Epidemiologi  2
2.3 Etiologi  2
2.4 Patofisiologi dan Patogenesis  3
2.5 Klasifikasi   4
2.6 Manifestasi Klinis  4
2.7 Diagnosis  5
2.8 Diagnosis banding  5
2.9 Terapi   6
2.10 Prognosis  6

BAB III PENUTUP  7

3.1 Kesimpulan  7
3.2 Saran  7

Daftar Pustaka  8

 

 

 

 

 

 

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1 Latar Belakang

Hidrocefalus masih merupakan masalah yang sangat penting dalam dunia kesehatan. Terutama bila diakaitkan terhadap pertumbuhan dan perkembangan otak, sehingga otomatis bila tidak ditangani secara cepat dan tepat akan menimbulkan gangguan dalam pertumbuhan dan perkembangan yang lebih parah lagi, bahkan menjadi kasus yang berat dan berakibatkan fatal (Darson : 2005).

Hidrocefalus itu sendiri adalah penimbunan cairan serebrospinal yang berlebihan didalam otak. Hidrocefalus adalah kelainan patofisiologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinal intracranial yang meninggi, sehingga terdapat pelebaran ventrikuler (Darson :2005).  Pelebaran ventikuler ini akibat ketidakseimbangan antara produksi dan absobrsi cairan serebrospinal. Adanya kelainan-kelainan tersebut menyebabkan kepala menjadi besar serta menjadi terjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-ubun ( De Vito et al ; 2007).

Secara statistic ditemukan bahwa dengan penangana bedah dan penatalaksanaan medis yang baik sekalipun, didapatkan hanya sekitar 40% dari penderita hidrocefalus mempunyai kecerdasan yang normal dan sekitar 60% mengalami cacat kecerdasan dan fungsi motoric yang bermakna ( Suriadi dkk : 2001).

1.2 Tujuan

Untuk memenuhi tugas makalah kebidanan neonatus serta mampu mengerti tentang penyakit hidrocefalus.

1.3 Sistematika Penulisan

BAB 1 PENDAHULUAN: Latar Belakang, Tujuan, Rumusan Masalah Dan Sistematika Penulisan.

BAB 2 TINJAUAN TEORI: Pengertian, Epidemiologi, Etiologi,  Patofisiologi Dan Patogenesis, Klasifikasi, Manifestasi Klinis, Diagnosis, Diagnosis Banding, Terapi, Dan Prognosis.

BAB 3 PENUTUP: Kesimpulan dan Saran.

Daftar Pustaka

BAB 2

TINJAUAN TEORI

 

2.1 Pengertian

Hidrocefalus itu sendiri adalah penimbunan cairan serebrospinal yang berlebihan didalam otak. Hidrocefalus adalah kelainan patofisiologis otak yang mengakibatkan bertambahnya cairan serebrospinal intracranial yang meninggi, sehingga terdapat pelebaran ventrikuler (Darson : 2005).  Pelebaran ventikuler ini akibat ketidakseimbangan antara produksi dan absobrsi cairan serebrospinal. Adanya kelainan-kelainan tersebut menyebabkan kepala menjadi besar serta menjadi terjadi pelebaran sutura-sutura dan ubun-ubun ( De Vito et al ; 2007).

 

2.2 Epidemiologi

Insidensi hidrocefalus antara 0,2-4 setiap seribu kelahiran. Insidensi hidrocefalus kongenital adalah 0,5-1,8 pada seribu kelahiran dan 11-34% disebabkan oleh stenosis aqueductus serebri. Tidak ada perbedaan bermakna insidensi untuk kedua jenis kelamin, juga dalam hal perbedaan ras. Hidrocefalus dapat terjadi pada semua umur.Pada dewasa dan remaja lebih sering disebabkan toxoplasmosis. Hidrocefalus infantile 46% adalah akibat subaraknoid dan meningitis, dan kurang dari 4% akibat tumor fossa posterior (Darsono : 2005).

 

2.3 Etiologi 

Hidrocefalus terjadi bila terdapat penyumbatan aliran cairan serebrospinal (CSS) pada salah satu tempat antara tempat pembentukan CSS dalam system ventrikel dan tempat absorbsi dalam ruang subaraknoid. Akibat penyumbatan, terjadi dilatasi ruangan CSS diatasnya (Repper : 2005). Secara teoritis pembentukan CSS yang terlalu banyak dengan kecepatan absorbsi abnormal akanmenyebabkan terjadinya hidrocefalus, namun dalam klinik sangat jarang terjadi.

Penyebab penyumbatan cairan CSS yang sering terjadi pada bayi dan anak dengan hidrocefalus kongenital, adalah stenosis akuaduktus sylvii, spinabifida dan karium bifida sindrom dandy-walker, serta adanya kista araknoid dan anomaly pembuluh darah.

Pada anak-anak, resiko terjadinya hidrocefalus ditemukan pada beberapa keadaan, yakni kelainan bawaan, tumor pada system daraf pusat, infeksi dalam kandungan, infeksi system saraf pusat pada bayi atau anak-anak (misalnya meningitis atau ensefalitis), cidera pada proses kelahiran, serta cedera sebelum atau sesudah lahir (misalnya perdarahan subraknoid).

Pada anak-anak yang lebih besar, risiko terjadinya hidrocefalus terjadi pada beberapa kondisi, yakni riwayat kelainan bawaan, sepace-occutying lesions atau tumor otak maupun kordal spinalis, infeksi system saraf pusat, serta perdarahan otak dan trauma.

 

2.4 Patofisiologi dan Patogenesis

Cairan serebrospinal dibuat didalam ota dan biasannya beredar keseluruh bagian otak, selaput otak serta kranalis spinalis, kemudian diserap kedalam system peredaran darah jika terjadi gangguan pada peredaran maupun penyerapan cairan yang dibentuk terlalu banyak, maka volume cairan didalam otak menjadi lebih tinggi dan normal.penimbunan cairan menyebabkan penekanan pada otak untuk mendorong tulang tengkorak atau merusak jaringan otak.

CSS yang dibentuk dalam system ventrikel oleh pleksus khoroidalis kembali kedalam peredaran darah melalui kapiler dalam piameter dan arachnoid ynag meliputi seluruh susunan saraf pusat (SSP). Cairan likuor sebrospinal terdapat dalam suatu system, yakni system internal dan system eksternal.

Hidrocefalus secra teoritis terjadi sebagai akibat dari tiga mekanisme yaitu, produksi likuor yang berlebihan, peningkatan resistensi aliran likuor, serta peningkatan tekanan sinus venosa. Konsekuensi tiga mekanisme tersebut adalah peningkatan tekanan intrakraanial sebagai upaya mempertahankan keseimbangan sekresi dan absorbs.

Mekanisme terjadinya dilatasi ventrikel cukup rumit dan berlangsung berbeda-beda tiap saat selama perkembangan hidrocefalus. Beberapa hal, yakni kompresi system serebrovaskular, redistribusi dari likuor serebrospinal atau cairan ekstraseluler, perubahan mekanisme dari otak, efek tekanan denyet likuor serebrospinalis, hilangnya jaringan otak, serta pembesarna volume tengkorak karena regangan abnormal sutura kranial.

Produksi likuor yang berlebihan disebabkan tumor pleksus khoroid. Gangguan aliran likuor merupakam awal dari kebanyakan kasus hidrocefalus. Peningkatan resistensi yang disebabkan gangguan aliran akan meningkatkan tekanan likuor secara proposional dalam upaya mempertahankan serobsi yang seimbang. Peningkatan tekanan sinus vena mempunyai dua konsekuensi, yaitu peningkatan tekanan vena kortiakal sehingga menyebabkan volume vascular intracranial bertambah dan peningkatan tekanan intracranial sampai batas yang dbutuhkan untuk mempertahankan aliran likuor terhadap tekanan sinus vena yang rel tinggi. Konsekuwensi klinis dari hipertensi vena ini tergantung dari komplians tengkorak (Darsono : 2005).

 

2.5 Klasifikasi

Klasifikasi hidrocefalus tergantung pada factor yang berkaitan dengannya, berdasarkan :

1. Gambaran klinis, dikenal hidrocefalus manifest (overt hydrocephalus)
2. Waktu pembentukan, dikenal dengan hidrocefalus kongenital dan hidrocefalus akuisita
3. Proses pembentukannya, dikenal hidrocefalus akut dan hidrocefalus kronik
4. Sirkulasi CSS, dikenal hidrocefalus komunikans dan hidrocefalus non-komunikans.

Hidrocefalus interna menunjukkan adanya dilatasi ventrikal, hidrocefalus eksternal menunjukkan rongga subarachnoid diatas permukaan korteks. Hidrocefalus obstruktif pada aliran likuor. Berdasarkan gejala, dibagi menjadi hidrocefalus simptomatik. Hidrocefalus arrested menunjukkan keadaan dimana factor-faktor yang menyebabkan dilatasi ventrikel pada saat tersebut sudah tidak aktif lagi. Hidrocefalus ex-vacuo adalah sebutan bagi kasus venkrumegali yang diakibatkan atrofi otak primer, yang biasannya terdapat pada orangtua (Darsono : 2005).

 

2.6 Manifestasi Klinis

Gejalanya bervariasi, tergantung penyebab dari penyumbatan aliran cairan serebrospinal dan luasnya kerusakan jaringan otak akibat hidrocefalus. Pada  bayi, cairan menumpuk pada system saraf pusat dan menyebabkan ubun-ubun menonjol serta kepala membesar. Kepala bias membesar karena piringan tulang tengkorak belum sepenuhnya menutup. Tetapi, jika tulang tengkorak telah menutup ( sekitar usia 5 tahun) maka tulang tengkorak tidak dapat membesar lagi.

Tanda awal dan gejala hidrocefalus tergantung pada awitan dan derajat ketidakseimbangan kapasitas produksi dan resorbsi CSS (Darsono : 2005).gejala-gejala yang menonjol merupakan refleksi adanya hipertensi intracranial. Manifestasi klinis dari hidrocefaluspada anak dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu awitan hidrocefalus pada neonates dan awitan hidrocefalus pada akhir masa kanak-kanak.

Awitan hidrocefalus terjadi pada masa neonates, meliputi pembesaran kepala abnormal, gambaran tetap hidrocefalus kongenital dan pada masa bayi. Lingkaran kepala neonates biasanya adalah 35-40 cm, dan pertumbuhan ukuran lingkar kepala terbesar adalah selama tahun pertama kehidupan. Cranium tradistensi dalam semua arah, tetapi terutama pada fontanela terbuka dan tegang, sutura masih terbuka bebas. Tulang-tulang kepala menjadi sangat tipis. Vena-vena diisi samping kepala tampak melebar dan berlekok (Rickman, 2003).

Awitan hidrocefalus terjadi pada akhri masa kanak-kanak. Pembesaran kepala tidak bermakna, tetapi nyeri kepala sebagai manifestasi hipertensi intracranial. Lokasi nyeri kepala tidak khas. Dapat disertai keluhan pengelihatan ganda (diplopia) dan jarang diikuti penurunan visus. Secara umum gejala yang paling umum terjadi pada pasien-pasien hidrocefalus dibawah usia 2 tahun adalah pembesaran abnormal yang progesif dari ukuran kepala. Makrokrania mengesankan sebagai salah satu tanda bila ukuran lingkar kepala lebih besar dari dua deviasi standart diatas ukuran normal.

Makrokranial biasanya diserta empat gejala hipertensi intracranial lainnya yaitu fontanela anterior yang sangat tegang. Sutura cranium tampak atau teraba melebar, kulit kepala licin mengkilap dan tampak vena-vena superfisial menonjol, fenomena “matahari tenggelam” (sunset fhenomena). Gejala hipertensi intracranial lebih menonjol pada anak yang lebih besar dibandingkan dengan bayi.Gejalanya mencakup nyeri kepala, muntah, gangguan kesadran, gangguan okulomotor, dan pada kasus yang telah lanjut ada gejala gangguan batang otak akibat herniasi konsiler (bradikardi, aritmia respirasi) (Darsono : 2005).

 

 

2.7 Diagnosis 

Disamping dari pemeriksaan fisik, gambaran klinik smar-samar maupun khas , kepastian diagnosis hidrocefalus dapat ditegakkan dengan menggunakan alat-alat radiologic yang canggih. Pada neonates, USG cukup bermanfaat untuk anak yang lebih besar, umumnya diperlukan CT scanning. CT scan dan MRI dapat memastikan diagnosis hidrocefalus dalam waktu yang relative singkat. CT scanmerupakan cara yang aman dan dapat diandalkan untuk membedakan hidrocefalus dari penyakit lain yang juga menyebabkan pembesaran kepala abnormal, serta untuk identifikasi tempat obstruksi aliran CSS (Darsono : 2005).

 

2.8 Diagnosis banding

Pembesaran kepala dapat terjadi pada hidrocefalus, makrocefalus, tumor otak, abses otak, granuloma intracranial, dan hematoma subdural perinatal, hidranecefali. Hal-hal tersebut dijumpai terutama pada bayi dan anak-anak berumur kurang dari 6 tahun (Darsono :2005).

2.9 Terapi

Pada dasarnya ada tiga prinsip dalam pengobatan hidrocefalus, yaitu mengurangi produksi CSS dengan tempat absorbs, serta pengeluaran likuor (CSS) kedalam organ ekstrakranial (Darsono : 2005).

Penampilan hidrosefalus juga dapat dibagi menjadi tiga yaitu penanganan sementara, penanganan alternative (selain shunting), serta operasi pemasangan “pintas” (shunting). Penanganan sementara ditempuh melalui pemberian terapi konservatif medikamentosa. Pemberian terapi ini ditunjukkan mengurangi sekresi cairan dari pleksus khoroid atau upaya meningkatkan resorbsinya.

Penanganan alternative (selain shunting), misalnya pengontrolan kasus yang mengalami intoksitasi vitamin A, reseksi radikal lesi massa yang mengganggu aliran likuor atau perbaikan suatu malformasi. Aat ini cara terbaik untuk melakukan perforasi dasar ventrikel III adalah dengan teknik bedah endoskopik (Rickham : 2003).

Operasi pemasangan “pintas” (shunting), bertujuan membuat saluran baru antara aliran likuor dengan kavitas drainase. Pada anak-anak lokasi drainase yang terpilih adalah rongga subarachnoid lumbar. Ada dua hal yang perlu diperhatikan pada periode pasca operasi, yaitu pemeliharaan luka kulit terhadao kontaminasi infeksi dan pemantauan kelancaran dan fungsi alat shunt yang dipasang. Infeksi pada shunt meningkatkan resiko akan kerusakan intelektual, lokulasi ventrikal dan bahkan kematian (Ropper ; 2005).

 

2.10 Prognosis 

Hidrocefalus yang tidak diterapi akan menimbulkan gejala sisa, gangguan neorologis serta kecerdasan. Dari kelompok yang tidak diterapi, 50-70% akan meninggal karena penyakitnya sendiri atau akibat infeksi berulang, atau oleh karena aspirasi pheneomonia. Namun bila prosesnya berhenti (Arrested hidrocefalus) sekitar 40% anak akan mencapai kecerdasan yang noral (Ropper :2005).

Pada kelompok yang dioperasi, angka kematian adalah 7%. Setelah operasi sekitar 51% kasus mencapai fungsi normal dan sekitar 16% mengalamiretradasi mental ringan.Adalah penting sekali anak hidrocefalus mendapat tindak lanjut jangka panjang dengan kelompok multidispener (Darsono : 2005).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 3

PENUTUP

 

3.1 Kesimpulan

Jumlah cairan serebrospinal (CSF) dan rongga serebrospinal berlebihan dapat meningkatkan tekanan sehingga dapat merusak jaringan syaraf. Keadaan ini disebut hidrocefalus yang berarti “kelebihan air dalam kubah tengkorak”. Jadi, hidrocefalus dapat diakibatkan oleh pembentukan cairan berlebih oleh pleksus koroideus, absorbs yang inadekuat atau obstruksi aliran keluar pada salah satu ventrikel atau lebih.

Ada dua jenis hidrocefalus : non komunikan, yaitu aliran dari system ventrikel ke ruang subarachnoid mengalami sumbatan dan komunikan yaitu tidak ada sumbatan. Sindroma klinis yang berhubungan dengan dilatasi yang progesif pada system ventricular serbral dan kompresi gabungan dari jaringan-jaringan serebral selama produksi. CSS yang ada meningkatkan kecepatan absorbsi oleh villi arachnoid. Akibat berkelebihannya cairan serebrospinal dan meningktnya tekanan intracranial menyebabkan terjadinya peleburan ruang-ruang tempat mengalirnya cairan. Penyebab penyumbatan aliran CSF yang sering terjadi pada bayi dan anak adalah kelainan bawaan atau kongenital, infeksi, neoplasma dan perdarahan otak sebelum persalinan atau sesudah persalinan.

 

3.2 Saran 

Bagi wanita usia subur harus lebih berhati-hati harus menjaga kondisi kesehatan sebelum dan selama kehamilan, dan juga saat bayi sudah lahir.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Darsono dan Himpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia Dengan UGM. 2005. Buku Ajar Neorologi Klinis.Yogyakarta: UGM Press.

Devito EE, Salmond CH, Owler BK, Sahakian BJ, Pickard JD. 2007. Caudate Structural Abnormalities In Idiopathic Normal Preassure Hydrocephalus. Acta Neurol Scand 2007: 116: Pages 328-332

Peter Paul Rickham. 2003. Obituaries. BMJ 2003: 327: 1408-Doi: 10.1136/ bmj.327.7428.1408.

Ropper, Allan H. And Robert H. Brown. 2005. Adams And Victor’s Principles Of Neorolgy: Eight Edition. USA.

 

 

Askeb ANC Covid

  BAB III TINJAUAN KASUS 3.1     Pengkajian Hari / tanggal    : Senin, 20 Mei 2021                                           Jam   : 1...