Monday, 6 July 2020

KPD ketuban pecah dini

KPD Ketuban Pecah Dini

Batasan

Ketuban pecah 1 jam kemudian tidak di ikuti tanda-tanda awal persalinan

Patofisiologi

1. Korio amnionitis menyebabkan selaput ketuban jadi rapuh

2. Inkompetensia serviks yakni kanalis servikalis yang selalu terbuka oleh karena kelainan pada serviks uteri ( akibat persalinan atau tindakan kuret)

3. Kelainan letak sehingga tidak ada bagian terendah anak yang menutup pintu atas panggul (PAP), yang dapat mengurangi tekanan terhadap membran bagian bawah

4. Trauma yang menyebabkan tekanan intra uterin (intra amniotic) mendadak meningkat

Cara Pemeriksaan / Diagnosis

Bila air ketuban keluar banyak dan mengandung mekonium / verniks maka diagnosis inpeksi mudah ditegakkan tapi bila ke luar cairan sedikit maka diagnosis harus didasarkan pada :

1. Anamnesis

A. Kapan keluar cairan

B. Warna

C. Bau

D. Adakah partikel-partikel didalam cairan (laguno vernix)

2. Inspeksi

Keluar cairan pervaginam

3. Inspekulo

Bila fundus ditekan atau bagian terendah digoyangkan, ke luar cairan dari ostium uteri dan terkumpul pada forniks posterior

4. Periksa Dalam

A. Ada cairan dalam vagina

B. Selaput ketuban sudah tak ada lagi

5. Pemeriksaan Lab

A. Kertas lakmus : reaksi basa (lakmus merah berubah jadi biru)

– kortikosteroid untuk merangsang maturasi paru (betametason 12mg iv 2x selang 24jam)

B. Mikroskopik

– tampak lanugo, verniks caseosa (tidak selalu dikerjakan)

Bila dengan cara diatas ternyata ketuban sudah pecah, maka diambil ketemtuan sebagai berikut :

1. Saat ketuban pe ah ditentukan berdasarkan anamnesis pasti tentang kapan ketuban pecah

2. Kalau anamnesis tidak pasti, maka saat ketuban pecah adalah saat penderita masuk kamar bersalin

Diagnosis Banding

1. Cairan dalam vagina bisa urine / flour albuse

2. Hind water and fore water rupture of the membrane pada kedua keadaan ini tidak ada oerbedaan penatalaksanaanya

Penyulit

1. Infeksi intra uterin, kematian perinata. Meningkat dari 17% menjadi 68% apabila ketuban sudah oecah 48jam anak belum lahir

2. Tali pusat menumbung

3. Persalinan preterm

4. Amniotic band syndrome yakni kelainan bawaan akibat ketuban pecah sejak hamil muda

Penatalaksanaan

I. KPD dengan kehamilan Aterm

1. Diberikan antibiotik

2. Observasi suhu rektal tidak meningkat, ditunggu 24jam, bila belum ada tanda-tanda inpartu dilakukan terminasi

3. Bila saat datang sudah lebih dari 24jam, tidak ada tanda-tanda inpartu dilakukan terminasi

II. KPD dengan kehamilan Prematur

1. EFW > 1500gram

a. Ampiciline 1gr/hr tiap 6jam, im/iv selama 2hari dan gentamycine 60-80mg tiap 8-12jam sehari selama 2hari

b. Kortikosteroid untuk merangsang maturasi paru (bethametasone 12mg iv 2x selang 24jam)

c. Observasi 2×24 jam kalau belum inpartu segera terminasi

d. Observasi suhu rektal tiap 3jam bila ada kecenderungan meningkat >37,6 c segera terminasi

2. EFW kurang dari 1500 (<1500g)

a. Observasi 2×24 jam

b. Observasi suhu rektal tiap 3jam

c. Pemberian antibiotik / kortikosteroid ( sama dengan atas )

d. VT selama obeservasi tidak dilakukan kecuali ada his / inpartu

e. Bila T rektal meningkat >37,6 C segera terminasi

f. Bila 2×24 jam cairan tidak keluar lakukan USG : bagaimana jumlah air ketuban bila jumlah air ketuban cukup kehamilan dilanjutkan perawatan ruangan s/d 5hari bila jumlah air ketuban minimal segera terminasi

g. Bila 2×24 jam cairan ketuban masih keluar segera terminasi

h. Bila konservatif sebelum pulang penderita diberi KIE : 

– Segera kembali ke RS bila ada tanda-tanda demam atau keluar cairan lagi

– Tidak boleh coitus (berhubungan)

– Tidak boleh manipulasi vaginal

Terminasi persalinan yang dimaksud di atas adalah : 

1. Induksi persalinan dengan memakai drip oxytocin (5u/ 500cc D5%) bila persyaratan klinis (USG dan NST) memenuhi

2. Seksio sesar bila persyaratan untuk drip oxytocin tidak terpenuhi (ada kontra indikasi) atau drip oxytocin gagal

III. KPD yang dilakukan induksi

1. Bila 12jam belum ada tanda-tanda awal persalinan dengan atau belum keluar dari fase laten induksi dinyatakan gagal dan persalinan diselesaikan dengan seksio sesar

2. Bila dengan 2botol (@5U/500 cc D5%) dengan tetesan maximum, belum inprartu atau belum keluar dari fase laten induksi dinyatakan gagal persalianan diselsaikan dengan SC

IV. KPD yang sudah inpartu

1. Evaluasi setelah 12 jam harus keluar dari fase laten, bila belum keluar dari fase laten dilakukan akselerasi persalinan dengan drip oxytocin atau terminasi dengan SC bila ada kontra indikasi untuk drip oxytocin

2. Bila pada fase laten didapat tanda-tanda fase laten memanjang maka dilakukan akselerasi persalinan dengan drip oxytocin atau terminasi dengan SC bila ada kontra indikasi drip oxytocin

Catatan

1. Evaluasi persalinan setelah masuk fase aktif sesuai dengan persalinan yang lain (kurve friedman)

2. Pada keadaan ketuban pecah pada fase laten (inpartu) maka penatalaksanaan seperti KPD inpartu dihitung mulai saat pecahnya ketuban

Daftar Pustaka

Cunningham, Gant, Leveno, Gilstrap III, Wenstrom, Wiliam Obstetrics.21st Ed, 2001

Friedman, Acker, Sachs. Obstetrical Decision Making. Second Ed.p 170 Manly, Graphic Asian Edition, 1998

Kebijakan Pelayanan Obstetri dan Ginekologi Lab / UPF Kebidanan Kandungan FK Unair / RSUD Dr. Soetomo Surabaya, 1982

No comments:

Post a Comment

Askeb ANC Covid

  BAB III TINJAUAN KASUS 3.1     Pengkajian Hari / tanggal    : Senin, 20 Mei 2021                                           Jam   : 1...