Sunday, 1 April 2018

Asuhan kebidanan post SC

ASUHAN KEBIDANAN
PADA NY “M” P2002 HARI KE-1 POST SEKSIO CAESAREAE 

BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Pada masyarakat masa nifas dipandang sebagai masa yang tidak rawan terhadap keadaan ibu setelah melahirkan, padahal angka kematian ibu terbesar terjadi saat masa nifas, yaitu 19.500 – 20.000 setiap tahunnya atau setiap 26 -27 menit sekali penyebabnya adalah perdarahan 30,5 %, infeksi 22,5%, anastesia 12,0%, di masa lampau perawatan purperium sangat konservatif dimana purperium diharuskan tidur terlentang selama 40 hari, kini perawatan purperium lebih aktif dengan menganjurkan untuk mobilisasi dini. Dalam periode sekarang ini asuhan masa nifas sangat diperlukan karena merupakan masa kritis baik ibu maupun bayi. Diperkirakan 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama (Prawirohardjo, 2005).
Masa nifas atau purperium adalah suatu masa yang dimulai setelah persalinan selesai dan berakhir setelah 42 hari atau 6 minggu, akan tetapi seluruh alat genetalia baru pulih kembali seperti sebelum ada kehamilan dalam waktu 3 bulan (sarwono, 2002 )
Dalam masa nifas ibu mengalami perubahan perubahan pada alat genetalianya yang biasanya disebut dengan involusi  yang artinya perubahan alat alat genetalia interna dan eksterna  menjadi pulih seperti sebelum hamil, 
Oleh karena itu dalam masa nifas diperlukan pengawasan secara ketat dan perawatan yang baik untuk mengurangi terjadinya komplikasi pada ibu dan hal ini dapat menurunkan AKI ,untuk itu penulis tertarik membahas tentang asuhan kebidanan yang diberikan pada ibu post partum,  Dalam hal ini asuhan persalinan normal sangat penting karena mempunyai tujuan menjaga kelangsungan hidup dan memberikan derajat kesehatan yang tinggi bagi ibu dan bayinya, melalui upaya yang terintegrasi dari lengkap tetapi dengan intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada per tingkat yang diinginkan (optimal) (APN. 2007 : 3).

1.2    Tujuan
1.2.1   Tujuan Umum
Tujuan pembuatan laporan ini di harapkan mahasiswa melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu post partum dengan persalinan vacuum ekstraksi.
1.2.2   Tujuan Khusus
Setelah melakukan praktek kebidanan ini diharapkan :
1.      Mampu melakukan pengkajian yaitu mengumpulkan data subyektif dan obyektif pada Ny “L” P20002 post partum hari ke-1 dengan persalinan vakum ekstraksi.
2.      Mampu mengidentifikasi masalah pada Ny “L” P20002 post partum hari ke-1 dengan persalinan vakum ekstraksi.
3.      Mampu mengidentifikasi masalah potensial pada Ny “L” P20002 post partum hari ke-1 dengan persalinan vakum ekstraksi.
4.      Mampu memberikan tindakan segera Ny “L” P20002 post partum hari ke-1 dengan persalinan vakum ekstraksi.
5.      Mampu merencanakan tindakan sesuai dengan prioritas masalah pada Ny “L” P20002 post partum hari ke-1 dengan persalinan vakum ekstraksi.
6.      Mampu melakukan tindakan berdasarkan rencana pada Ny “L” P20002 post partum hari ke-1 dengan persalinan vakum ekstraksi.
7.      Mampu mengevaluasi dari tindakan yang telah dilakukan pada Ny “L” P20002 post partum hari ke-1 dengan persalinan vakum ekstraksi.

1.3    Ruang Lingkup
Dalam laporan asuhan kebidanan ini kami membatasi pada Ny “L” P20002 post partum hari ke-1 dengan persalinan vakum ekstraksi di Ruang Mina RSAB Muhammadiyah Tuban.

1.4    Metode Penulisan
1.4.1        Rencana Penelitian
Metode yang dipelajari dalam meyusun laporan ini adalah metode deskripsi berapa studi kasus, yaitu membadingkan studi dengan kasus yang nyata di lapangan.
1.4.2        Tempat pengambilan Data
Laporan ini diambil di ruang Mina RSAB Muhammadiyah Tuban.
1.4.3        Teknik Pengambilan Data
a.    Wawancara
Anamnese langsung dengan klien serta keluarganya.
b.    Observasi
Mengamati langsung kondisi klien, meliputi tanda-tanda vital.
c.    Pemeriksaan Fisik
Melakukan pemeriksaan menyeluruh, yaitu mulai dari inspeksi, palpasi, auskultasi, perkusi serta pemeriksaan menunjang lainnya.
d.   Studi Kepustakaan
Data diperoleh dari status pasien dan buka yang berhubungan dengan post partum dengan persalinan vacum ekstraksi.

1.5    Pelaksanaan
Praktek lapangan ini dilaksanakan di ruang Mina RSAB Muhammadiyah Tuban mulai tanggal 17 Maret29 Maret 2014

1.6    Sistematika Penulisan
BAB 1             : Berisikan latar belakang, tujuan, ruang lingkup, metode
penulisan, pelaksanaan dan sistematika penulisan
BAB 2             : Berisikan konsep dasar sesuai dengan kasus atau asuhan
kebidanan yang diambil Konsep dasar asuhan kebidanan menurut hellen varney
BAB 3             : Berisikan tentang pengkajian, diagnosa atau masalah potensial,
tindakan segera atau kolaborasi, intervensi atau perencanaan, implementasi atau pelaksanaan dan Evaluasi
BAB 4             : Berisikan kesimpulan dan saran
Daftar Pustaka.


















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1     Konsep Dasar Nifas
2.1.1   Pengertian
Masa nifas (postpartum/ puerperium) berasal dari bahasa latin yaitu dari kata “Puer” yang artinya bayi dan “Parous” yang berarti melahirkan. Masa nifas dimulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, biasanya berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari, namun secara keseluruhan akan pulih dalam waktu 3 bulan. Periode pasca persalinan meliputi masa kritis bagi ibu, bayi dan keluarganya secara fisiologis, emosional dan sosial.
Masa nifas (puerperium) adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu (Abdul Bari. S, dkk, 2002).
Masa nifas (puerperium) adalah di mulai setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6-8 minggu. Masa dilakukan untik menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir dan untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani masalah-masalah yang terjadi.(Prawirohardjo, 2008).
Masa nifas adalah dimulai setelah melahirkan plasenta dan berakhir ketika alat-alat reproduksi kembali seperti keadaan semula sebelum hamil. Masa nifas berlangsung kira-kira 6 minggu (Prawirohardjo, 2006)
Masa nifas adalah masa pulihnya kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra hamil. Lama masa nifas ini sekitar 6-8 minggu. (Mochtar, Rustam : 2005)
Masa nifas (puerperium) adalah waktu yang diperlukan untuk dipulihkan alat kandungan pada keadaan yang normal, yang berlangsung selama 6 minggu atau 42 hari (Manuaba, 2007)
Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekitar enam minggu (Farrer, 2007).

2.1.2   Periode Nifas
a.    Pueperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari
b.    Pueperium Intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genetalia yang lamanya 6-8 minggu
c.    Remote pueperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih kembali dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi. Waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan.
2.1.3   Tujuan Asuhan Masa Nifas
1.    Menjaga kesehatan ibu dan bayinya baik fisik maupun psikologik.
2.    Melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, mangobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayinya.
3.    Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, pemberian imunisasi kepada bayinya dan perawatan bayi sehat.
4.    Memberikan pelayanan keluarga berencana. (Prawirohardjo, 2007).

2.1.4   Perubahan-perubahan yang Terjadi Masa Nifas
Selama hamil, terjadi perubahan pada sistem tubuh wanita, diantaranya terjadi perubahan pada sistem reproduksi, sistem pencernaan, sistem perkemihan, sistem musculoskeletal, sistem endokrin, sistem kardiovaskuler, sistem hematologi, dan perubahan pada tanda-tanda vital.
Pada masa postpartum perubahan-perubahan tersebut akan kembali menjadi seperti saat sebelum hamil.Adapun perubahannya adalah sebagai berikut :
1.    Sistem Reproduksi
a.    Uterus
Uterus secara berangsur-angsur menjadi kecil (involusi) sehingga akhirnya kembali seperti sebelum hamil. Involusi Uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil dengan bobot hanya 60 gram. Proses involusio uterus adalah sebagai berikut:
-  Autolysis
Merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot uterine. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah mengendur hingga panjangnya 10 kali panjang sebelum hamil dan lebarnya 5 kali lebar sebelum hamil yang terjadi selama kehamilan.
-  Terdapat polymorph phagolitik dan macrophages di dalam system vascular dan system limphatik.
-   Efek oksitosin
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterin sehingga akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi plasenta serta mengurangi perdarahan.


Waktu
Bobot Uterus
Diameter Uterus
Palpasi Serviks
Pada akhir persalinan
900 gram
12,5 cm
Lembut/lunak
Akhir minggu ke-1
450 gram
7,5 cm
2 cm
Akhir minggu ke-2
200 gram
5,0 cm
1 cm
Akhir minggu ke-6
60 gram
2,5 cm
Menyempit

Waktu
TFU
Setelah bayi lahir
Setinggi pusat
Setelah uri lahir
1 jari bawah pusat
1-2 hari
2 jari bawah pusat
3-4 hari
3 jari bawah pusat
5-6 hari
Pertengahan simpisis pusat
7 hari
3 di atas simpisis
8 hari
2 di atas simpisis
9 hari
1 di atas simpisis
10 hri
Tidak teraba lagi

Dengan adanya involusi uterus, maka lapisan luar dari desidua yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi necrotic (layu/mati). Desidua yang mati akan keluar bersama dengan sisa cairan. Campuran antara darah dan desidua tersebut dinamakan lochea, yang biasanya berwarna merah muda atau putih pucat.
Lochea adalah ekskresi cairan rahim selama masa nifas dan mempunyai reaksi basa/alkalis yang dapat membuat organisme berkembang lebih cepat dari pada kondisi asam yang ada pada vagina normal. lochea mempunyai bau yang amis (anyir) meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbeda-beda pada setiap wanita. lochea mengalami perubahan karena proses involusi. Pengeluaran lochea dapat dibagi berdasarkan waktu dan warnanya, seperti pada tabel berikut ini:
Lochea
Waktu
Warna
Ciri-ciri
Rubra
1-3 hari
Merah kehitaman
Terdiri dari sel desidua, verniks caseosa, rambut lanugo, sisa mekoneum dan sisa darah
Sanginolenta
3-7 hari
Putih bercampur merah
Sisa darah bercampur lender
Serosa
7-14 hari
Kekuningan/ kecoklatan
Lebih sedikit darah dan lebih banyak serum, juga terdiri dari leukosit dan robekan laserasi plasenta
Alba
>14 hari
Putih
Mengandung leukosit, selaput lendir serviks dan serabut jaringan yang mati

b.    Perubahan Ligamen
Setelah bayi lahir, ligamen dan diafragma pelvis fasia yang meregang waktu  kehamilan dan saat melahirkan, kembali seperti sedia kala. Perubahan  ligamen yang dapat terjadi pasca melahirkan antara lain : ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan letak uterus menjadi  retrofleksi; ligamen, fasia, jaringan penunjang alat genetalia menjadi agak kendor.
c.    Perubahan pada Serviks
Segera setelah melahirkan, serviks menjadi lembek, kendor, terkulai dan berbentuk seperti corong. Hal ini di sebabkan korpus uteri berkontraksi sedangkan serviks tidak berkontraksi, sehingga perbatasan antara korpus dan serviks uteri berbentuk cincin. Warna serviks merah kehitam-hitaman karena   penuh pembuluh darah. Segera setelah bayidilahirkan, tangan pemeriksa masih dapat dimasukan 2–3 jari dan setelah 1 minggu hanya 1 jari saja yang dapat masuk.
Oleh karena hiperpalpasi dan retraksi serviks, robekan serviks dapat sembuh, Namun demikian, selesai involusi, ostium eksternum tidak sama waktu  sebelum hamil. Pada  umumnya ostium eksternum lebih besar tetap ada retak-retak dan robekan-robekan pada pinggirnya, terutama pada pinggir sampingnya.
d.   Perubahan Pada Vulva, Vagina dan Perineum
Selama proses persalinan vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan, setelah beberapa hari persalinan kedua organ ini kembali dalam keadaan kendor. Rugae timbul kembali pada minggu ke tiga. Himen tampak sebagai tonjolan kecil dan dalam proses pembentukan berubah menjadi  karankulae mitiformis yang khas bagi wanita multipara. Ukuran vagina akan selalu lebih besar dibandingkan keadaan saat sebelum persalinan pertama.
Perubahan pada perineum pasca melahirkan terjadi pada saat perineum  mengalami robekan. Robekan jalan lahir dapat terjadi secara spontan ataupun dilakukan episiotomi dengan indikasi tertentu.
Meskipun demikian, latihan otot perineum dapat mengembalikan tonus tersebut dan dapat mengencangkan vagina hingga tingkat tertentu. Hal ini dapat dilakukan pada akhir puerperium dengan latihan harian.
e.    Payudara
Perubahan pada payudara dapat meliputi :
-  Penurunan kadar progesteron secara tepat dengan peningkatan hormon prolaktin setelah persalinan.
-  Kolostrum sudah ada saat persalinan produksi Asi terjadi pada hari ke-2 atau hari ke-3 setelah persalinan.
-  Payudara menjadi besar dan keras sebagai tanda mulainya proses laktasi
Laktasi dapat diartikan dengan pembentukan dan pengeluaran air susu ibu (ASI), yang merupakan makanan pokok terbaik bagi bayi yang bersifat alamiah. Bagi setiap ibu yang melahirkan akan tesedia makanan bagi bayinya, dan bagi si anak akan merasa puas dalam pelukan ibunya, merasa aman, tenteram, hangat akan kasih sayang ibunya. Hal ini merupakan faktor yang penting bagi perkembangan anak selanjutnya.
Produksi ASI masih sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan, ibu yang selalu dalam keadaan tertekan, sedih, kurang percaya diri dan berbagai ketegangan emosional akan menurunkan volume ASI bahkan tidak terjadi produksi ASI. Ibu yang sedang menyusui juga jangan terlalu banyak dibebani urusan pekerjaan rumah tangga, urusan kantor dan lainnya karena hal ini juga dapat mempengaruhi produksi ASI. Untuk memproduksi ASI yang baik harus dalam keadaan tenang. Ada 2 refleks yang sangat dipengaruhi oleh keadaan jiwa ibu, yaitu :
1)   Refleks Prolaktin
Pada waktu bayi menghisap payudara ibu, ibu menerima rangsangan neurohormonal pada putting dan areola, rangsangan ini melalui nervus vagus diteruskan ke hypophysa lalu ke lobus anterior, lobus anterior akan mengeluarkan hormon prolaktin yang masuk melalui peredaran darah sampai pada kelenjar-kelenjar pembuat ASI dan merangsang untuk memproduksi ASI.
2)   Refleks Let Down
Refleks ini mengakibatkan memancarnya ASI keluar, isapan bayi akan merangsang putting susu dan areola yang dikirim lobus posterior melalui nervus vagus, dari glandula pituitary posterior dikeluarkan hormon oxytosin ke dalam peredaran darah yang menyebabkan adanya kontraksi otot-otot myoepitel dari saluran air susu, karena adanya kontraksi ini maka ASI akan terperas ke arah ampula.
2.    Sistem Perkemihan
Dinding kandung kencing memperlihatkan oedem dan hyperemia. Kadang-kadang oedema trigonum, menimbulkan abstraksi dari uretra sehingga terjadi retensio urine. Kandung kencing dalam puerperium kurang sensitif dan kapasitasnya bertambah, sehingga kandung kencing penuh atau sesudah kencing masih tertinggal urine residual (normal + 15 cc). Sisa urine dan trauma pada kandung kencing waktu persalinan memudahkan terjadinya infeksi.
Dilatasi ureter dan pyolum normal dalam waktu 2 minggu. Urine biasanya berlebihan (poliurie) antara hari kedua dan kelima, hal ini disebabkan karena kelebihan cairan sebagai akibat retensi air dalam kehamilan dan sekarang dikeluarkan. Kadang-kadang hematuri akibat proses katalitik involusi. Acetonurie terutama setelah partus yang sulit dan lama yang disebabkan pemecahan karbohidrat yang banyak, karena kegiatan otot-otot rahim dan karena kelaparan. Proteinurine akibat dari autolisis sel-sel otot.
3.    Sistem Gastrointestinal
Biasanya ibu mengalami obstipasi setelah persalinan. Hal ini disebabkan karena pada waktu melahirkan alat pencernaan mendapat tekanan yang menyebabkan kolon menjadi kosong, pengeluaran cairan yang berlebihan pada waktu persalinan (dehidrasi), kurang makan, haemoroid, laserasi jalan lahir. Supaya buang air besar kembali teratur dapat diberikan diet/makanan yang mengandung serat dan pemberian cairan yang cukup. Bila usaha ini tidak berhasil dalam waktu 2 atau 3 hari dapat ditolong dengan pemberian huknah atau glyserin spuit atau diberikan obat yang lain.

2.1.5   Program dan Kebijakan Teknisi
Kunjungan masa nifas dilakukan untuk menilai keadaan ibu dan bayi baru lahir dan untuk mencegah, mendeteksi, menangani masalah-masalah yang terjadi selama masa nifas :
Kunjungan-kunjungan tersebut meliputi:
1.    Kunjungan I : 6-8 jam setelah persalinan dengan tujuan.
a.    Mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
b.    Mendeteksi dan merawat penyebab lain perdarahan
c.    Memberi konseling pada ibu / salah satu anggota keluarga bagaimana mencegah perdarahan masa nifas karena atonia uteri
d.   Pemberian ASI awal
e.    Melakukanhubungan antara ibu dengan BBL
f.     Menjaga bayi tetap sehat dengan cara menjaga hipotermia
2.    Kunjungan II : 6 hari setelah persalinan  dengan tujuan:
a.    Memastikan involusi uteri berjalan normal : Uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilians, tidak ada perdarahan abnormal.
b.    Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi,atau perdarahan abnormal.
c.    Memastikan ibu mendapat cukup makanan, cairan dan istirahat.
d.   Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tak memperlihatkan tanda-tanda penyakit.
e.    Memberi ibu konseling mengenai asuhan pada bayi, tali pusat, menjaga bayi tetap hangat dan merawat bayi sehari-hari.
3.    Kunjungan III :  2 minggu setelah persalinan dengan tujuan sama seperti kunjungan kedua, 6 hari setelah persalinan.
4.    Kunjungan IV :  6 minggu setelah persalinandengan tujuan:
a.    Menanyakan pada ibu tentang penyakit-penyakit pada ibu / bayinya.
b.    Memberi konseling KB secara alami.
      i.          (Parwirohardjo, 2002)

2.1.6   Tindakan yang Baik Untuk Asuhan Masa Nifas
1.    Personal hygiene /Kebersihan Diri
a.    Mengajarkan kepada ibu untuk selalu menjaga kebersihan tubuh, membersihkan daerah vagina, mulai dari depan ke belakang.
b.    Mengganti pembalut setidaknya 2x sehari.
c.    Mencuci tangan dengan sabun, setelah membersihkan daerah kelaminnya.
d.   Jika ibu mempunyai luka jahitan / laserasi, sarankan untuk ibu menghindari menyentuh daerah sekitar luka dan membersihkan daerah sekitar luka.
2.    Istirahat
a.    Anjurkan agar cukup istirahat.
b.    Sarankan ibu untuk kembali beraktifitas secara perlahan-lahan / tidur siang atau istirahat selagi bayi tidur.
3.    Gizi
a.    Ibu menyusui harus makan dengan diet seimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup.
b.    Pil zat besi harus diminum menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin
c.    Minum kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A  kepada bayinya melalui ASI.
4.    Perawatan Payudara
a.    Menjaga kebersihan payudara terutama putting susu.
b.    Menggunakan BH yang menyokong payudara.
c.    Bila putting lecet oleskan colostrums atau ASI pada sekitar putting setiam sebelum dan sesudah menyusui.
d.   Apabila lecet berat dapat diistirahatkan 24 jam ASI asi dikeluarkan dan diminum dengan sendok.
e.    Apabila bengkak ibu dapat mengompresnya dengan air hangat 2 menit, air dingin 1 menit dan air hangat lagi 2 menit.

2.2     Konsep Dasar Vacum
2.2.1   Definisi
Vakum esktraksi adalah suatu persalinan buatan di mana janin dilahirkan dengan ekstraksi tenaga negatif (vakum) pada kepalanya (Prawirohardjo, 2000 : 10). Ektraksi Vacum adalah persalinan janin dimana janin dilahirkan dengan ekstraksi tekanan negative pada kepalanya dengan menggunakan ekstraktor vakum ( ventouse ) dari malstrom.
Sedangkan Mochtar (1998 : 120) berpendapat bahwa vakum ekstraksi merupakan suatu alat yang dipakai untuk memegang kepala janin yang masih berada dalam jalan lahir. Menurut Saifuddin (2000 : 495) vakum ekstraksi merupakan tindakan obstetrik yang bertujuan untuk mempercepat kala pengeluaran dengan tenaga mengedan ibu dan ekstraksi pada bayi.

2.2.2        Tujuan Persalinan Vakum Ekstraksi
1.        Untuk mempercepat kala pengeluaran pada letak kepala. (Saifudin, 2001).
2.        Bertujuan untuk mempercepat kala pengeluaran dengan tenaga mengedan ibu dan ekstraksi pada bayi. (Saifuddin,2002)

2.2.3        Indikasi melakukan Vakum Ekstraksi
1.    Indikasi Ibu:
a.    Ibu dengan penyakit paru dan jantung
b.    Kelelahan ibu
c.    Toksemia gravidarum
d.   Ruptura Uteri iminens
2.    Indikasi Janin
a.    Gawat janin
3.    Indikasi berdasarkan waktu
a.    Kala II lama dengan presentasi belakang kepala / verteks
b.    Partus tak maju

2.2.4        Kontra Indikasi dalam melakukan Vakum
1.    Faktor Ibu
a.    Pada ibu yang tidak bisa mengedan sama sekali
b.    Panggul sempit atau DKP
c.    Ruptur uteri iminens
2.    Faktor Janin
a.    Preterm
b.    Janin letak lintang, presentasi muka, presentasi bokong

2.2.5        Syarat-Syarat boleh dilakukan Vakum
1.    Pembukaan lengkap atau hampir lengkap
2.    Presentasi belakang kepala
3.    Penurunan kepala HIII+
4.    Ketuban (-)
5.    Tidak ada DKP atau panggul sempit
6.    Harus ada tenaga mengedan dari ibu
7.    Anak hidup dan tidak ada gawat janin

2.2.6        Komplikasi Vakum Ekstraksi
1.    Pada Ibu     : Perdarahan, trauma jalan lahir dan infeksi
2.    Pada Janin  : Perdarahan dalam otak, caput suksedenum, ekskoriasi kulit kepala cepal hematoma, nekrosis kulit kepala, perdarahan intra cranial, fraktur klavikula

2.2.7 Yang Harus Diperhatikan Dalam Tindakan Ektraksi Vacum

1.    Cup tidak boleh dipasang pada ubun-ubun besar
2.    Penurunan tekanan harus berangsur-angsur
3.    Cup dengan tekanan negative tidak boleh terpasang lebih dari ½ jam
4.    Penarikan waktu ekstraksi hanya dilakukan pada waktu ada his dan ibu mengejan
5.    Apabila kepala masih agak tinggi ( H III ) sebaiknya dipasang cup terbesar (diameter 7 cm)
6.    Cup tidak boleh dipasang pada muka bayi
7.    Vacum ekstraksi tidak boleh dilakukan pada bayi premature

2.2.8        Perawatan Nifas dengan Vakum Ekstraksi
1.    Perawatan Luka
Pada robekan perinium lakukan penjahitan dengan baik lapis demi lapis, perhatikan jangan sampai terjadi ruang kosong terbuka ke arah vagina yang biasanya dapat dimasuki bekuan-bekuan darah yang akan menyebabkan tidak baiknya penyembuhan luka.
2.    Involusi Uterus
Pengembalian uterus harus tetap dipantau untuk mengetahui konsistensi dan kontraksi uterus yang dapat mempengaruhi perdarahan perawatannya dengan memasage uterus dan bila perlu diberi terapi.
3.    Perawatan Rutin atau Intensif
Setelah di lakukan persalinan dengan vakum ekstraksi hal –hal yang harus di perhatikan adalah:
a.    TTV lengkap meliputi: TD, Nadi, RR, Suhu
b.    Intake – output (jumlah cairan yang keluar dan masuk )
c.    Luka bekas persalinan
d.   Perdarahan / lochea
4.    Nyeri
Sejak penderita sadar dalam 24 jam pertama, rasa nyeri masih di rasakan di daerah jalan lahir, untuk mengurangi rasa nyeri tersebut dapat di berikan Terapi anti sakit /  penenang.
Mis : pethidin 100 - 150 mg IM, morfin 10 -15 mg IV
Setelah hari 1 -2 rasa nyeri akan hilang sendiri, dengan pemerian terapi keadaan umum penderita akan menjadi lebik baik.
5.    Mobilisasi
Tahap demi tahap  sangat berguna untuk membantu pasien kembali pulih seperti semula, maka dari itu di perlukan mobilisasi. Mulai dari 6 – 10 jam post partum pasien di anjurkan miring kanan kiri terlebih dahulu, setelah itu tidur dengan ganjalan bantal lebih tinggi dan duduk bila tidak ada keluhan maka penderita di anjurkan berdiri dahulu sebelum berjalan, bila tidak pusing maka bisa berjalan secara pelan –pelan.
Tujuan dari mobilisasi adalah mencegah terjadinya trombosis dan emboli. Sebaliknya bila mobilisasi di lakukan secara dini maka akan mempengaruhi penyembuhan luka. Jadi mobilisasi harus di lakukan secara teratur sesuai tahap yang di anjurkan.
6.    Pemberian Obat-obatan
Pemberian terap berfungsi agar penderita KU cepat pulih dan luka pada jalan lahir cepat sembuh. Cara pemilihan Antibiotik, kemoterapi, dan anti inflamasi pada tiap institute dan dokter berbeda. Sebagai pedoman umum:
a.    Sebelum di lakukan uji biakan (culture test), uji kepekaan (sensitifity test), pilih antibiotic pembunuh kuman gram negative sebagai obat suntikan, lalu berikan antibiotic pembunuh gram positif peroral atau sebaliknya.
b.    Setelah uji biakan – uji kepekaan di terima, berikan obat dengan berpedoman pada uji hasil Lab dengan cara seperti di atas
c.    Dosis obat harus tepat dan adekuat.
d.   Obat – obat pencegah perut kembung,  Plasil, perimperan, prostigmin di berikan peroral untuk mencegah kembung yang dapat mengganggu pencernaan. Dapat juga di berikan supositoria : bisakodil 36 jam pasca bedah
7.    Konsultasi
Pada kasus tertentu/ terjadi komplikasi selain bekerja sama dengan unit anastesi, kadang – kadang di perlukan konsultasi dengan disiplin lain.

2.2.9        Penatalaksanaan
Penatalaksanaan post partum spontan dengan vakum ekstraksi menurut Mochtar (1998) adalah:
1.    Pada robekan perinium lakukan penjahitan dengan baik lapis demi lapis, perhatikan jangan sampai terjadi ruang kosong terbuka ke arah vagina yang biasanya dapat dimasuki bekuan-bekuan darah yang akan menyebabkan tidak baiknya penyembuhan luka.
2.    Segera mobilisasi dan realimentasi.
3.    Konseling keluarga berencana.
4.    Berikan antibiotika cukup.
5.    Pada luka perinium lama lakukan perineoplastik dengan membuka luka dan menjahitnya kembali sebaik-baiknya.

2.3     Konsep Dasar Asuhan Kebidanan Menurut Hellen Varney
2.3.1     Pengkajian
A.      Data subyektif
1.    Identitas
- Nama              :Nama penderita dan suaminya, ditanyakan untuk mengenal dan memanggil pasien  dan tidak keliru dengan pasien lain.
- Umur               :Untuk mengetahui apakah pasien resiko tinggi/ tidak    menyesuaikan  terapi yang diberikan.
- Bangsa/Suku   : Mengenal adat kebiasaan dan kandungan yang dilakukan.
- Pendidikan      :Untuk mengetahui tingkat pengetahuan ibu/ taraf kemampuan berfikir ibu, sehingga petugas kesehatan bisa menyampaikan/ memberikan penyuluhan atau KIE pada pasien lebih mudah.
- Pekerjaan        :Yang ditanyakan pekerjaan suami dan ibu sendiri, untuk mengetahui bagaimana taraf hidup dan sosial ekonomi klien, agar nasehat yang diberikan sesuai.
- Agama            :Ditanyakan untuk mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap kebiasaan kesehatanm klien. Dengan diketahuinya agama klien, akan memudahkan petugas kesehatan melakukan pendekatan di dalam melakukan asuhan kebidanan.
- Alamat            :Untuk mengetahui klien tinggal dimana. Menjaga kemungkinan bila ada klien yang namanya sama. Ditanyakan alamat, agar dapat dipastikan ibu yang mana yang hendak ditolong. Alamat juga diperlukan bila mengadakan kunjungan kepada klien.
2.   Alasan Kunjungan
Untuk mengetahui keluhan sekarang dan untuk menegakkan diagnosa, Keluhan yang dirasakan pada pasien nifas SC biasanya yaitu pasien merasakan nyeri pada luka bekas jahitan SC
3.   Status perkawinan
Berisi tentang umur pertama kali kawin dan lama perkawinan, untuk memudahkan kita dalam mendeteksi apakah ibu tergolong ibu dalam resiko tinggi atau tidak
4.   Riwayat Mestruasi
Menarche          : Terjadinya haid yang pertama kali untuk mengetahui sistem reproduksinya
Siklus / lama      : Ditanyakan siklus haid karena pada pemakaian KB dapat terjadi pemanjangan atau pemendekan siklus haid
Flour albus        : Ditanyakan apakah terdapat flour albus sebelum/ selama haid, ditanyakan juga bau dan warnanya. Hal ini untuk mengetahui apakah ibu terkena penyakit seksual.
5.   Riwayat Kehamilan Pasien dan Nifas yang lalu
-       Ditanyakan kehamilan untuk mengetahui fungsi sistem reproduksinya dan untuk mengetahui jumlah anaknya.
-       Ditanyakan persalinan untuk mengetahui adanya penyulit yang dialami ibu pada waktu bersalin.
-       Ditanyakan nifas untuk mengetahui adanya komplikasi yang terjadi pada masa nifas.
6.      Riwayat Penyakit
-       Meliputi penyakit yang pernah dialami dan pengobatan yang pernah dilakukan. Hal ini penting diketahui untuk melihat kemungkinan adanya penyakit yang menyertai dan yang dapat mempengaruhi program KB.
-       Yang dikaji adalah penyakit yang pernah diderita ibu, yaitu :
a.    Penyakit kronis seperti hipertensi, jantung, dan DM
b.    Penyakit akut seperti kanker payudara
c.    Penyakit menular seperti : PMS, HIV/AIDS, TBC
d.   Riwayat perdarahan
7.      Perilaku Kesehatan
Untuk mengetahui bagaimana pola kesehatan ibu sehari-hari, seperti apakah ibu perokok, dan minum-minuman keras atau tidak.
8.      Pola Kehidupan Sehari-hari
-    Pola Nutrisi
Untuk mengetahui nutrisi yang dikonsumsi ibu, nutrisi yang diberikan pada pasien post SC harus secara bertahap yaitu dari makanan yang halus terlebih dahulu
-    Pola Eliminasi
Untuk mengetahui bagaimana pola eliminasi ibu sehari-hari, Pasien post SC dalam 1 – 2 hari biasanya masih terpasang kateter
-    Pola Istirahat
Untuk mengetahui kebutuhan istirahat ibu, biasanya pasien mengalami gangguan istirahat atau tidur karena menahan rasa nyeri jahitan SC
-    Pola Aktifitas
Untuk mengetahui kegiatan atau aktifitas yang dilakukan oleh ibu sehari-hari
9.         Data psikososial
Untuk mengetahui respon psikologi terhadap kelahiran bayinya, rencana menyusui, mengasuh, KB serta kebiasaan masyarakat yang dapat mempengaruhi psikologi klien.
B.  Data Obyektif
1.    Pemeriksaan Umum
Keadaan Umum            : Normalnya baik
Kesadaran                      : Normalnya composmentis
Tekanan darah               : Normalnya 110/80 – 120/90 mmHg
Nadi                               : Normalnya 60-100 x/mnt
Suhu                              : Normalnya 36,5 – 37,5oC
Pernafasan                     : Normalnya 16 – 24 x/mnt
BB                                 : Penurunan  5 sampai 6 kg pada waktu melahirkan
dan penurunan 3 sampai 5 kg selama minggu pertama masa nifas
2.    Pemeriksaan fisik
-       Kepala dan wajah     : Untuk mengetahui raut wajah klien( apakah
kesakitan atau tidak), odema / tidak, anemis / tidak( normal pada mata: konjungtiva merah muda, sklera putih)
-       Mulut dan gigi          : Untuk mengetahui adakah stomatitis / tidak,
sianosis / tidak, bibir anemis atau tidak
-       Leher                         : Ada atau tidak pembesaran vena jugularis, kelenjar
limfe, thiroid, atau stroma.
-       Payudara
-       Bentuk                 : Normalnya berbentuk simetris
-       Areola                  : Terjadi Hyperpigmentasi / Tidak
-       Putting susu         : Sudah menonjol atau belum
-       Keluaran               : Adanya keluaran colostrum
-       Abdomen
-       Luka jahitan SC   : Tidak ada luka jahitan SC.
-       TFU                      : Untuk mengetahui proses involusi Uteri sesuai
dengan masa nifas atau tidak
Involusi
Tinggi Fundus Uterus
Berat Uterus
Bayi lahir
Uri lahir
1 Minggu
2 Minggu
6 Minggu
8 Minggu
Setinggi pusat
1 jari bawah pusat
Pertengahan sympisis pusat
Tidak teraba diatas simphisis
Bertambah kecil
Sebesar normal
1000 gram
750 gram
500gram
350 gram
50 gram
30    Ram

-       Konsistensi Uterus : Keras / lembek
-       Kontraksi uterus   : Baik/tidak
-       Pengeluaran Pervaginam / Lochea
-       Warna                   : Merah kehitaman, atau yang lainnya.
-       Jumlah                  : Banyaknya Lochea yang keluar tiap hari(normal ≤
500 cc).
-       Bau                       : Berbau busuk atau tidak
-       Konsistensi           : Cair / kental
-       Perineum
-       Bekas jahitan        : Ada atau tidak bekas jahitan pada perineum dan
bagaimana kondisinya(ada pus atau tidak)
-       Kebersihan           : Keadaan Perineum bersih atau tidak
-       Oedema                : Ada oedema pada perineum atau tidak
-       Warna                   : Untuk mengetahui warna perineum
-       Anus                         : Ada tidaknya hemoroid
-       Ekstremitas               : Ada / tidak oedema pada ekstermitas
3.    Data Penunjang
Untuk mengetahui hasil pemeriksaan laboratorium: urine atau darah, hasil konsultasi data kehamilan dan persalinan sekarang sebagai data yang menunjang diagnosa dan intervensi.

2.3.2     Interpretasi Data
Untuk mengidentifikasi masalah, diagnosa dan kebutuhan, data dasar menjadi masalah atau diagnosa spesifik terdiri dari:
Diagnosa         : Diagnosa yang ditegakkan oleh bidan dalam lingkup praktek
kebidanan dan memenuhi standar nomen klatur ( Tata Usaha ) diagnosa kebidanan.
DX                  :  P……….. Post vacum ekstraksi hari ke.........
Masalah           : Dirumuskan bila bidan menemukan kesenjangan yang terjadi
pada respon ibu terhadap masa nifas. Permasalahan yang muncul merupakan pernyataan dari pasien, ditunjang dengan data dasar baik subjektif maupun objektif.
Kebutuhan      : Masalah ini terjadi belum termasuk dalam rumusan diagnosis
yang ada, tetapi masalah tersebut membutuhan penanganan bidan, maka masalah dirumuskan setelah diagnose.

2.3.3     Diagnosa Potensial
Langkah ini menggambarkan proses manajemen yang dapat mengidentifikasi situasi yang gawat dimana petugas kesehatan harus mengatisipasi dari diagnosa potensial agar menentukan tindakan segera apabila terjadi komplikasi.
Luka persalinan merupakan tempat masuknya kuman ke dalam tubuh, sehingga menimbulkan infeksi pada kala nifas. (Manuaba, 2008).

2.3.4     Kebutuhan Segera
Langkah ini mencakup kebutuhan akan tindakan yang harus segera dilakukan untuk mengatasi diagnosa atau masalah potensial yang terjadi agar tidak terjadi komplikasi, kolaborasi, dengan dokter dan rujukan.

2.3.5     Intervensi
Langkah ini berisi serangkaian asuhan yang akan diberikan kepada  ibu sesuai diagnosa atau masalah awal yang ada sesuai standart pelayanan dan disertai rasionalnya.

2.3.6     Implementasi
Langkah ini berisikan tentang asuhan yang telah diberikan kepada ibu berdasarkan rencana yang telah disusun sebelumnya untuk menangani diagnosa/ masalah yang telah teridentifikasi.

2.3.7     Evaluasi
Langkah ini berisi tentang asuhan yang telah diberikan apakah telah memenuhi kebutuhan klien, jika memang asuhan yang telah diberikan belum efektif maka perlu dilakukan pengulangan atau perbaikan pada pemberian asuhan selanjutnya
Berdasarkan evaluasi selanjutnya, asuhan kebidanan dituliskan dalam bentuk catatan perkembangan yang mencakup SOAP :
S (Subyektif)   : Data yang didapat dari penyataan klien
O (obyektif)    : Data yang diperoleh dari hasil observasi dan pemeriksaan
A (assesment): Pernyataan gangguan yang terjadi atas data S dan O
P (Planning)    : Perencanaan yang ditentukan sesuai dengan masalah yang terjadi.





















BAB III
TINJAUAN KASUS

1.1  Pengkajian
Tanggal : 30 Januari 2013                                                       Jam : 16.00  WIB   
1.    Data Subyektif
1.1    Identitas
Nama klien      : Ny “L”                      Nama suami    : Tn “L”
Umur               : 41 tahun                    Umur               : 43 tahun
Bangsa / suku  : Indonesia / Jawa       Bangsa / suku  : Indonesia / Jawa 
Agama             : Islam                         Agama             : Islam
Pendidikan      : SD                             Pendidikan      : SD
Pekerjaan         : Tani                           Pekerjaan         : Tani
No. Register    : 05.21.18                    Alamat                        : Sumurgung montong
1.2     Keluhan Utama
Ibu mengatakan telah melahirkan anak ke-2 secara kop pada tanggal 17 Maret 2014 jam 17.45 WIB, BB/PB : 3,4 Kg / 49 cm. Ibu merasa nyeri pada luka  jahitan.
1.3    Riwayat Menstruasi
Siklus menstruasi         : ± 35 hari                    Flour Albus     : Tidak ada
Lama                           : 7 hari                         Menarche        : 14 tahun
Warna                          : Merah segar               Dysmenorrhoe : Ya
Bau                              : Anyir                         HPHT              : 19-06-2013
1.4    Riwayat Kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
No
Suami ke
UK
Jns. Pers
Penol
Penyul
BB
JK
H / M
Meneteki
KB
1.
1
9 bln
Spt
Bidan
-
3350
5 th
2 th
Suntik 3bln slma 15 th
2.
1
NIFAS INI








1.5    Riwayat Kesehatan / Penyakit klien
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular, keturunan dan menahun, seperti : DM, hipertensi, asma dan keturunan kembar/ gemeli.
1.6    Riwayat Penyakit Keluarga
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit menular, keturunan dan menahun, seperti : DM, hipertensi, asma dan keturunan kembar/ gemeli.
1.7    Pola Kehidupan sehari – hari
-  Pola Nutrisi
Masa Nifas : Ibu mengatakan setelah melahirkan ini sudah makan
makanan yang diberian RS dengan habis dan minum 2-3 botol aqua tanggung.
-  Pola Eliminasi
Masa Nifas : Ibu mengatakan setelah Melahirkan ini BAK
menggunakan selang pipis dan belum bisa BAB.
-  Pola Istirahat
Masa Nifas : Ibu mengatakan setelah melahirkan ini tidur malam
berkurang karena terganggu dengan luka jahitan pada jalan lahir
-  Pola Personal Hygiene
Masa Nifas : Ibu mengatakan setelah melahirkan belum mandi, ibu
hanya disibin saja
-  Pola Aktivitas
Masa Nifas : Ibu mengatakan setelah melahirkan ini  hanya berbaring,
belajar miring kanan dan kiri, belum mulai belajar duduk
-  Hubungan sexual
Masa Nifas : -
1.8  Data Psikososial
a.    Respon ibu terhadap kelahiran bayi
Ibu sangat bahagia dengan kelahiran bayinya. Suami dan keluarga juga ikut senang atas kelahiran bayi.
b.    Rencana menyusui bayi sampai dengan (ASI / PASI)
Ibu mengatakan akan menyusui anaknya dengan ASI saja sampai  2 tahun dan di lanjutkan dengan susu formula.
c.    Tingkat pengetahun ibu :
-       Ibu mengatakan sudah mengerti dengan pentingnya manfaat ASI bagi bayinya.
-       Ibu sudah mengerti dengan perawatan payudara.
-       Ibu sudah mengerti tentang perlunya membersihkan daerah kewanitaannya .
-       Ibu belum mengerti cara merawat kebersihan daerah kewanitaannya.
d.   Rencana mengasuh bayi
Ibu berencana akan mengasuh bayinya bersama-sama dengan suami dan dibantu oleh keluarga.
e.    Rencana KB
Ibu mengatakan akan menggunakan KB suntik.
f.     Kebiasaan masyarakat yang merugikan dan menguntungkan.
Ibu mengatakan keluarganya hidup bersih dan tidak ada budaya tarak.
2.    Data Obyektif
a.    Pemeriksaan umum
Kesadaran                      : Composmentis
KU                                 : Baik
BB (waktu hamil)          : 69 kg
TD / N/ S / RR               : 130/80 mmHg / 80x/menit / 36,50C/ 20x/menit
b.    Pemeriksaan fisik
Kepala               : Kepala bersih, rambut bersih,tidak mudah rontok
Wajah                : Muka tidak pucat, tidak ada bekas cloasma gravidarum,
konjungtiva merah muda, sclera putih
Mulut dan gigi   : Bersih, bibir tidak kering, tidak caries dan stomatitis
Leher                 : Tidak ada pembesaran vena jugularis, kelenjar thyroid,  
maupun kelenjar limfe
Payudara                        : Bersih
-       Bentuk                    : simetris, keadaan bersih,
-       Areola                     : Hiperpigmentasi
-       Putting susu            : Menonjol
-       Keluaran                 : Kolostrum
Abdomen
-       Luka parut              : Ada
-       TFU                        : 2 jari bawah pusat
-       Konsistensi uterus  : Keras
-       Kontraksi uterus     : Baik
Pengeluaran pervagina
-       Lochea                    : Rubra
-       Warna                     : Merah
-       Jumlah                    : ± 50 cc
-       Bau                         : Anyir
-       Konsistensi             : cair
Perineum
-       Bekas jahitan          : Tidak ada (masih basah)
-       Kebersihan              : bersih
-       Oedema                  : tidak ada
-       Warna                     : merah kehitaman
Anus                              : Tidak ada hemoroid
Extremitas                     : Tidak ada oedema maupun varises
c.    Pemeriksaan Penunjang
-       Pemeriksaan laboratorium     :  Hb    : 9 gr / dl
-       Hasil konsultasi         : tx                   : infuse D5 20 tpm, ceftrinaxon 2 x 1, ketorolac 3 x 1
-       Data kehamilan dan persalinan        
UK                                        : 36 minggu
Penyulit                                 : -
Pemeriksaan kehamilan         : -
-    Proses persalinan                       :
Kala 1                                   jam
Kala 2                                   jam
Kala 3                                   jam                 
Kala 4                                   jam                 
-    Keadaan bayi
Apgar scor                            : 6 – 7
Berat badan                          : 3400 gram
Panjang badan                      : 49 cm
Jenis kelamin             : Laki-laki

  II.     Interpretasi Data
Diagnosa              : P2002 hari ke – 1 Post vacum ekstraksi
Masalah                : Ibu cemas dengan kondisinya
Kebutuhan           : KIE tentang  :
-          Nyeri luka jahitan jalan lahir
-          Mobilisasi
-          Nutrisi

 III.       Antisipasi Diagnosa Dan Masalah Potensial
_

 IV.       Tindakan Segera / Kolaborasi
      Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi (pemberian analgetik)
      HE tentang mengurangi rasa nyeri
    V.       Rencanaan / Intervensi Secara Menyeluruh
Tujuan                : Setelah ibu diberi asuhan kebidanan diharapkan ibu
mengerti dengan penjelasan petugas, proses involusi berlangsung normal, tidak ada perdarahan dan komplikasi nifas.
Kriteria              : 
-       TTV dalam batas normal
-       Tidak ada tanda – tanda komplikasi
No
Intervensi
Rasional
1.
Jelaskan hasil pemeriksaan
-      Ibu mengetehui keadaan dirinya
2.
Jelaskan fisiologis nyeri
-      Ibu tidak merasa cemes dengan nyeri yang di rasakannya
3.
Observasi TTV, UC, Flux
-    Untuk mengetahui kondisi Ibu
4.
Berikan HE tentang:
-       Nutrisi

-       Personal hygien
-       Istirahat

-      Memenuhi kebutuhan  nutrisi
.
-      Ibu merasa nyaman dan terhindar dari infeksi
-      Untuk memulihkan tenaga ibu yang hilang saat persalinan.
5.
Kolaborasi dengan dokter
Bekerjasama dalam memberikan terapi

 VI.       Implementasi / Pelaksanaan
Tanggal : 17 Maret 2014                                   Jam : 19.00 WIB
No
Implementasi
Paraf
1.
Menjelaskan pada ibu bahwa kondisi ibu baik

2.
Menjelaskan bahwa nyeri yang di rasakan ini akibat terputusnya jaringan syaraf dan jaringan otot, namun semakin sering di gerakkan maka nyeri akan berkurang. Bila ibu hanya berbaring terus menerus dan takut bergerak karena nyeri akan menghambat proses penyembuhan. Sirkulasi darah pada luka menjadi tidak lancar.

3.
Melakukan observasi TTVdan memantau involusi uterus
TTV     : TD : 130/80 mmHg
              N   : 80 x / menit
              S    : 36, 5◦C
             RR  : 20 x / menit
Kontraksi uterus  : baik
Konsistensi uterus : keras
Kandung kencing : kosong
Perdarahan           : ± 50 cc
TFU                     : 2 jari bawah pusat

4.
Memberikan HE tentang:
-   Nutrisi: Menganjurkan kepada ibu untuk makan yang mengandung tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP). Menganjurkan kepada ibu untuk tidak tarak, ibu harus makan – makanan yang bergizi: nasi, lauk pauk, sayur, buah dan tidak harus mahal, sebanyak 3 x/ hari tidak ada pantangan makanan untuk ibu kecuali makanan yang merangsang untuk mencegah batuk ibu dan memperbanyak minum ± 3 liter perhari.
-   Personal hygien:  Membersihkan daerah kelamin dengan sabun dan air. Bersihkan daerah sekitar vulva, dari depan ke belakang kemudian bersihkan anus. membersihkan vulva setiap BAK dan BAB, lalu dikeringkan agar tidak berkembang mikroorganisme yang nantinya akan menyebabkan infeksi, Mengganti pembalut setidaknya dua kali / hari.
-   Istirahat : Menganjurkan Ibu untuk istirahat yang cukup, dengan tidur malam ± 7-8 jam dan tidur siang ± 1- 1 ½ jam atau tidur saat bayi tertidur

4.
Melakukan kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi


VII.             Evaluasi
Tanggal: 17 Maret 2014                      Jam : 19.10 WIB
S          :  Ibu mengatakan mengerti dengan penjelasan yang diberikan oleh
petugas
O         : Ibu dapat menjelaskan penjelasan petugas
-       KU                      : baik,
-       TD                       : 130 / 80 mmHg,
-       N                         : 80x/menit,
-       S                          : 35,50C
-       RR                        : 20x/menit
-       Mobilisasi             : (+)
-       TFU                      : 2 jari di bawah pusat
-       Kontraksi                         : baik
-       kandung kemih   : kosong
-       lochea                   : rubra (+)
-       Perdarahan           : ± 50 cc
A         : P 2002 Post vacum ekstraksi hari ke-1
P          :
-       Observasi : Perdarahan, keluhan.
-       Memberikan HE tentang :
1.   Cara merawat bayi sehari-hari
2.   Mobilisasi
3.   Vulva hygien
4.   Perawatan payudara
-       Melakukan kolaborasi dalam pemberian terapi    :
1.   Infus RL 2 flash @ 20 tpm            habis aff
2.   Cefotraxon              500 gram   2x1   : antibiotik
3.   Ketorolac                                 3x1   : anti nyeri
4.   Obat per oral  : - merilox                                         antipiretik
5.   Pospargin    3x1                  perdarahan
6.   lapmox                                            antibiotic














CATATAN PERKEMBANGAN

Tanggal : 18 Maret 2014                                 jam : 15.00 WIB
S          : ibu mengatakan nyeri luka bekas jahitan masih nyeri tapi sedikit berkurang. Ibu mampu mengerti tentang penjelasan yang diberikan dan tidak merasa khawatir lagi.
O         : KU    : baik
TD     :110/80 mmHg
N       : 80x/menit
S        : 36,80C
RR    : 20x/menit
TFU  : 2 jari bawah pusat
UC    : baik
Keluaran : ± 20 cc
UT     : 750 cc
Lochea          : Rubra (+) sedikit
A         : P 2002  hari ke 2 Post vacum ekstraksi
P          : Menghabiskan obat injeksi dan infuse RL
Pasang DC sampai dengan 24 jam (jam 07.00 tanggal 19 Maret 2014)
              Per oral          : - menilox                        Analgesik
-    Pospargin       3x1        Mrangsang kontraksi dan mencgah perdarahan
-    Lapimox                      Antibiotik














BAB IV
PENUTUP

4.1    Kesimpulan
Nifas (puerperium) merupakan masa yang dibutuhkan untuk memulihkan kembali alat – alat kandungan seperti keadaan sebelum hamil yang membutuhkan waktu 6 – 8 minggu / 40 hari.
Seksio caesareae adalah suatu cara melahirkan janin dengan membuat sayatan pada dinding uterus melalui dinding depan perut atau vagina. Seksio caesareae adalah suatu histerotomia untuk melahirkan janin dari dalam rahim. Seksio caesareae dilakukan atas indikasi antara lain : Plasenta previa, panggul sempit, disproporsi sefalo pelvix, gemeli, pattus tak maju, dll.
Pada dasarnya perawatan ibu nifas post SC dengan ibu nifas normalnya sama, yang membedakan adalah dari luka bekas jahitan SC yang membutuhkan perawatan tepat, oleh karena itu setelah dilakukan asuhan kebidanan menurut hellen varney diharapkan klien dapat mengerti dan paham serta dapat membuat klien lebih nyaman.

4.2        Saran
4.2.1  Bagi mahasiswa
Diharapkan mahasiswa lebih bisa meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan dalam meberikan asuhan atau pelayanan serta dapat mengaplikasikan antara teori dan hasil praktek di lapangan sehingga bisa didapatkan hasil yang semaksimal mungkin dalam memberikan suatu asuhan kepada klien.
4.2.2  Bagi instalasi
Diharapkan setelah terbuatnya asuhan kebidanan  ini, pada instalasi semoga bisa meningkatkan mutu pelayanan yang lebih baik serta dapat menggunakan sarana dan prasarana sebaik mungkin
4.2.3 Bagi pendidikan
Diharapkan dapat menyediakan buku – buku penunjang dengan referensi yang lebih banyak lagi, agar para mahasiswa lebih mudah dalam membuat asuhan kebidanan, serta meningkatkan mutu pendidikan supaya mahasiswa dapat lebih baik dan berkualitas dalam membuat asuhan kebidanan selanjutnya

No comments:

Post a Comment

Askeb ANC Covid

  BAB III TINJAUAN KASUS 3.1     Pengkajian Hari / tanggal    : Senin, 20 Mei 2021                                           Jam   : 1...